Rabu, 14 Desember 2011

SubhanaLLah … Sebuah PengaLaman Kehidupan

Tiada terpikir oLeh saya jikaLau pada hari SeLasa 20 Februari 2007 akan mendapatkan sebuah pengaLaman yang tiada terLupakan seumur hidup, yang mengingatkankan saya pribadi untuk Lebih berhati-hati.
Sudah sangat sering, bahkan mungkin sudah tidak bisa dihitung Lagi daLam kegiatan sehari-hari tentang keceLakaan LaLu-Lintas di jaLan raya. Namun yang akan saya ceritakan disini adaLah apa yang saya aLami sendiri, kisah nyata penuLis, bukan bermaksud untuk sombong, narsis, apaLagi riya’, hanyaLah untuk sharing informasi kepada para pembaca untuk Lebih berhati-hati daLam berLaLu-Lintas di jaLan raya.
Mohon maaf jika terLihat seperti cerita fiksi, namun beginiLah cara saya menyampaikan. BaikLah tak berpanjang kata Lagi, saya muLai saja dari awaL. Sekitar pukuL 21.30 WIB saya dan rekan bertiga (saya, FerLy & Andrew) main biLyard di Centro BiLyard Lounge (Yogyakarta tentunya) sampai sekitar pukuL 22.30 WIB. SebeLum pada ngacir puLang ke tempat masing-masing, seperti biasa ngerokok duLu sambiL duduk-duduk di gazebo parkiran tepi jaLan Ring-Road Utara Yogyakarta. Tak dinyana… tiba-tiba saja terdengar suara sangat keras dari arah jaLan (sekitar 10meter dari situ adaLah perempatan Lampu LaLu-Lintas)
Ciiiieeeeeeet……………………BRAAAAKK !!!
Decit rem mobiL diikuti suara keras dua benda keras yang bertabrakan, serentak tanpa dikomando kami semua bersama orang-orang yang kebetuLan sedang berada di parkiran berhamburan Lari menuju sumber suara. TerLihat pemandangan yang cukup membuat perasaan ini miris, betapa tidak… di aspaL tergeLetak tidak bergerak sesosok gadis dengan darah menggenang di sekitar kaki kanannya yang ternyata sudah hampir putus tepat di atas pergeLangan. Sontak saya teriak pada orang-orang yang maLah merubung mobiL penabrak,Woiiii!!! toLongin angkat bawa ke pinggir!!!.Hanya dua cowok yang berani mendekat untuk ikut saya mengangkat, karena kebanyakan tidak berani karena meLihat kondisi korban yang parah berLumuran darah. Kondisi korban sangat mengenaskan, jaket kain tipis yang dipakai sobek di beberapa tempat, mungkin karena gesekan dengan aspaL yang cukup keras. CeLana pendek jeans sebatas Lutut juga sobek-sobek waLaupun tidak terLaLu banyak.
Kondisi LaLu-Lintas beberapa saat terganggu karena kerumunan orang yang merubung mobiL penabrak, dengan maksud agar tidak Lari dari TKP dan bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Saya ditinggaLkan begitu saja oLeh 2 orang yang ikut mengangkat korban, mereka ternyata takut dengan kondisi yang terjadi. Jadi saya sendiriLah yang memegangi korban, waLaupun tidak terLaLu menguasai P3K namun dengan modaL nekat saya cek kondisi korban semampu saya. Syukur ALhamduLiLLah adaLah yang pertama saya ucap ketika saya tempeLkan jari di hidungnya dan masih terasa hembusan nafas, detak nadi masih terasa waLaupun Lemah. Korban pingsan tak bergerak samasekaLi dengan kondisi tangan kanan kaku menekuk kedepan dada. Kaki kanan yang hampir putus saya Luruskan waLaupun teta LungLai karena memang tuLangnya sudah putus dan hanya tersambung oLeh sedikit daging dan kuLit. CeLana jeans dan tangan saya berLumur darah yang mengucur dari Luka.
Ya ALLah… berikan saya kekuatan,” itu yang berkaLi-kaLi saya ucapkan daLam hati. Jujur! Sempat beberapa saat saya tidak dapat berpikir apa-apa karena memang kejadian ini begitu cepat. KembaLi saya teriak ke kerumunan orang-orang yang maLah menonton tanpa berbuat apa-apa, “PanggiL taksi donk Cepaaaaaaaat! Kasihan Cewek ini darahnya mengaLir terus!!!” KebetuLan ada seorang bapak yang berbaik hati menggunakan hp untuk memanggiL taksi. Saya semakin cemas karena darah mengaLir semakin deras dan taksi tidak juga muncuL. Tak berapa Lama Lewat sebuah mobiL bak terbuka yang kosong, akhirnya dicegat dan diminta toLong untuk mengantar ke rumah sakit terdekat. Dibantu 3 orang akhirnya korban bisa kita naikkan ke bak beLakang mobiL yang hanya diaLasi kertas karton bekas. Lagi-Lagi tak ada yang berani untuk menemani korban ke rumah sakit, akhirnya saya sendirian yang memegangi korban yang LungLai tak sadarkan diri. SekiLas sebeLum mobiL berjaLan, saya meLihat poLisi LaLu-Lintas sudah datang dan mengurus penabrak.
 Jarak rumah sakit terdekat sekitar 10menit perjaLanan meLewati daerah pemukiman yang banyak poLisi tidur, jadi paha saya yang menjadi sandaran kepaLa sambiL tangan saya memegangi kaki kanan korban supaya tidak bergerak-gerak. Setengah perjaLanan apa yang saya takutkan terjadi yaitu korban siuman dan muLai merintih kesakitan sambiL memandangi saya kebingungan. Saya berusahan menenangkan sambiL tetap konsentrasi ke Luka korban, terusterang saya takut jika sampai kaki itu putus. BerkaLi-kaLi korban berkeras mau duduk untuk meLihat Luka di kaki kanannya sambiL merintih-rintih memiLukan. WaLaupun sudah saya tahan dan coba menenangkan tetap saja akhirnya dia bisa meLihat kondisi Lukanya yang parah tersebut, dan tak bisa ditahan meLedakLah tangisnya. Saya makin tidak karuan rasanya…
Kaca mobiL beLakang sopir saya gedor-gedor dan biLang, “Pak… tolong cepat sedikit, kasihan korban!.” Sepanjang jaLan sejak korban sadar, hanya teriakan korban yang terdengar di teLingan saya, membuat saya agak risih juga karena banyak orang di pemukiman yang kami Lewati sempat meLongok ke kami dan pastinya bertanya-tanya ada apa gerangan yang terjadi kok ada cowok berbaju resmi memegangi gadis yang berteriak teriak kesakitan di bak beLakang mobiL yang meLaju cepat.
Sampai di peLataran rumah sakit, karena sudah sangat-sangat kasihan dengan keadaan korban maka saya kembaLi berteriak supaya orang tahu, “TOLONG UGD!!! Korban KeceLakaan LaLu-Lintas parah!!!” Dengan sigap 2 orang perawat keLuar membawa kereta dorong. Dibantu satpam saya mengangkat korban ke kereta dorong dan Langsung dibawa masuk ke daLam. Saya Loncat dari mobiL yang Langsung disambut oLeh bapak empunya kendaraan, “Pak… saya Langsung pergi ya soaLnya harus segera puLang.” BeLiau sangat ramah dan menyaLami saya, “OK Pak, terimakasih ya sudah mengantar.” Saya masuk ke rumah sakit mencari kamar mandi untuk membersihkan darah yang menempeL di tangan, ceLana dan sepatu. Sungguh tidak pernah terLintas di pikiran saya akan mengaLami haL yang seperti ini.
Petugas rumah sakit ternyata sudah menunggu saya di Lobby untuk menanyakan identitas korban. Mereka sempat tidak percaya dan tetap berusaha mengorek keterangan tentang korban seteLah saya jeLaskan bahwa saya samasekaLi tidak ada hubungan apa-apa dengan korban dan hanya tergerak menoLong karena berada di Lokasi keceLakaan. Terdengar suara erangan keras yang memiLukan hati dari UGD, “Bundaaaa! Sakiiiiiiit! Aku dimanaaaaaa iniiiii?“  Kami pun masuk ke ruang UGD dan mengecek korban apakah membawa identitas, yang ternyata samasekaLi tidak ada. ALhamduLiLlah, tak berapa Lama datang aparat PoLantas membawa SIM, STNK dan Kartu Mahasiswa korban, dari situ diketahui bahwa korban adaLah mahasiswa jurusan Akuntansi di Universitas IsLam Indonesia Yogyakarta.
SeteLah menunggu beberapa saat, dokter yang menangani korban menyatakan bahwa kondisi korban sangat parah bahkan resiko amputasi untuk kaki kanannya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan korban jika mengetahui kondisi yang sebenarnya. Mimpi apa dia semaLam sampai akhirnya mendapatkan musibah keceLakaan parah. MobiL ambuLan datang untuk membawa korban ke Rumah Sakit Sardjito supaya segera mendapat penanganan yang Lebih intensif secepatnya. Saya pun diantar aparat poLantas kembaLi ke tempat biLyard dengan tidak Lupa berpamitan kepada para petugas rumah sakit.
Demikian sekeLumit kisah yang dapat saya sampaikan, tanpa tendensi apa-apa namun hanya sekedar sebagai bahan perenungan bersama bahwasanya hidup adakaLanya mengaLami musibah yang tak akan pernah terpikirkan oLeh kita sebeLumnya. OLeh karena itu mariLah kita bersama Lebih berhati-hati ketika meLangkah, tidak hanya daLam berLaLu-Lintas tetapi juga daLam apa saja yang kita jaLankan sebagai tindakan preventif menghindarkan diri dari musibah. JikaLau memang tetap terjadi musibah keceLakaan berarti memang sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa dan bukanLah kesaLahan diri kita pribadi.
Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar