Tiada terpikir oLeh saya jikaLau pada hari SeLasa 20 Februari 2007
akan mendapatkan sebuah pengaLaman yang tiada terLupakan seumur hidup,
yang mengingatkankan saya pribadi untuk Lebih berhati-hati.
Sudah sangat sering, bahkan mungkin sudah tidak bisa dihitung Lagi
daLam kegiatan sehari-hari tentang keceLakaan LaLu-Lintas di jaLan raya.
Namun yang akan saya ceritakan disini adaLah apa yang saya aLami
sendiri, kisah nyata penuLis, bukan bermaksud untuk sombong, narsis,
apaLagi riya’, hanyaLah untuk sharing informasi kepada para pembaca
untuk Lebih berhati-hati daLam berLaLu-Lintas di jaLan raya.
Mohon maaf jika terLihat seperti cerita fiksi, namun beginiLah
cara saya menyampaikan. BaikLah tak berpanjang kata Lagi, saya muLai
saja dari awaL. Sekitar pukuL 21.30 WIB saya dan rekan bertiga (saya,
FerLy & Andrew) main biLyard di Centro BiLyard Lounge (Yogyakarta
tentunya) sampai sekitar pukuL 22.30 WIB. SebeLum pada ngacir puLang ke
tempat masing-masing, seperti biasa ngerokok duLu sambiL duduk-duduk di
gazebo parkiran tepi jaLan Ring-Road Utara Yogyakarta. Tak dinyana…
tiba-tiba saja terdengar suara sangat keras dari arah jaLan (sekitar
10meter dari situ adaLah perempatan Lampu LaLu-Lintas)
Ciiiieeeeeeet……………………BRAAAAKK !!!
Decit rem mobiL diikuti suara keras dua benda keras yang
bertabrakan, serentak tanpa dikomando kami semua bersama orang-orang
yang kebetuLan sedang berada di parkiran berhamburan Lari menuju sumber
suara. TerLihat pemandangan yang cukup membuat perasaan ini miris,
betapa tidak… di aspaL tergeLetak tidak bergerak sesosok gadis dengan
darah menggenang di sekitar kaki kanannya yang ternyata sudah hampir
putus tepat di atas pergeLangan. Sontak saya teriak pada orang-orang
yang maLah merubung mobiL penabrak, “Woiiii!!! toLongin
angkat bawa ke pinggir!!!.” Hanya dua cowok yang
berani mendekat untuk ikut saya mengangkat, karena kebanyakan tidak
berani karena meLihat kondisi korban yang parah berLumuran darah.
Kondisi korban sangat mengenaskan, jaket kain tipis yang dipakai sobek
di beberapa tempat, mungkin karena gesekan dengan aspaL yang cukup
keras. CeLana pendek jeans sebatas Lutut juga sobek-sobek waLaupun tidak
terLaLu banyak.
Kondisi LaLu-Lintas beberapa saat terganggu karena kerumunan
orang yang merubung mobiL penabrak, dengan maksud agar tidak Lari dari
TKP dan bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Saya ditinggaLkan begitu
saja oLeh 2 orang yang ikut mengangkat korban, mereka ternyata takut
dengan kondisi yang terjadi. Jadi saya sendiriLah yang memegangi korban,
waLaupun tidak terLaLu menguasai P3K namun dengan modaL nekat saya cek
kondisi korban semampu saya. Syukur ALhamduLiLLah adaLah yang pertama
saya ucap ketika saya tempeLkan jari di hidungnya dan masih terasa
hembusan nafas, detak nadi masih terasa waLaupun Lemah. Korban pingsan
tak bergerak samasekaLi dengan kondisi tangan kanan kaku menekuk kedepan
dada. Kaki kanan yang hampir putus saya Luruskan waLaupun teta LungLai
karena memang tuLangnya sudah putus dan hanya tersambung oLeh sedikit
daging dan kuLit. CeLana jeans dan tangan saya berLumur darah yang
mengucur dari Luka.
“Ya ALLah… berikan saya kekuatan,” itu yang
berkaLi-kaLi saya ucapkan daLam hati. Jujur! Sempat
beberapa saat saya tidak dapat berpikir apa-apa karena memang kejadian
ini begitu cepat. KembaLi saya teriak ke kerumunan orang-orang yang
maLah menonton tanpa berbuat apa-apa, “PanggiL taksi donk
Cepaaaaaaaat! Kasihan Cewek ini darahnya mengaLir terus!!!”
KebetuLan ada seorang bapak yang berbaik hati menggunakan hp untuk
memanggiL taksi. Saya semakin cemas karena darah mengaLir semakin deras
dan taksi tidak juga muncuL. Tak berapa Lama Lewat sebuah mobiL bak
terbuka yang kosong, akhirnya dicegat dan diminta toLong untuk mengantar
ke rumah sakit terdekat. Dibantu 3 orang akhirnya korban bisa kita
naikkan ke bak beLakang mobiL yang hanya diaLasi kertas karton bekas. Lagi-Lagi
tak ada yang berani untuk menemani korban ke rumah sakit, akhirnya saya
sendirian yang memegangi korban yang LungLai tak sadarkan diri. SekiLas
sebeLum mobiL berjaLan, saya meLihat poLisi LaLu-Lintas sudah datang
dan mengurus penabrak.
Jarak rumah sakit terdekat sekitar 10menit perjaLanan meLewati
daerah pemukiman yang banyak poLisi tidur, jadi paha saya yang menjadi
sandaran kepaLa sambiL tangan saya memegangi kaki kanan korban supaya
tidak bergerak-gerak. Setengah perjaLanan apa yang saya takutkan terjadi
yaitu korban siuman dan muLai merintih kesakitan sambiL memandangi saya
kebingungan. Saya berusahan menenangkan sambiL tetap konsentrasi ke
Luka korban, terusterang saya takut jika sampai kaki itu putus.
BerkaLi-kaLi korban berkeras mau duduk untuk meLihat Luka di kaki
kanannya sambiL merintih-rintih memiLukan. WaLaupun sudah saya tahan dan
coba menenangkan tetap saja akhirnya dia bisa meLihat kondisi Lukanya
yang parah tersebut, dan tak bisa ditahan meLedakLah tangisnya. Saya
makin tidak karuan rasanya…
Kaca mobiL beLakang sopir saya gedor-gedor dan biLang, “Pak…
tolong cepat sedikit, kasihan korban!.” Sepanjang jaLan sejak
korban sadar, hanya teriakan korban yang terdengar di teLingan saya,
membuat saya agak risih juga karena banyak orang di pemukiman yang kami
Lewati sempat meLongok ke kami dan pastinya bertanya-tanya ada apa
gerangan yang terjadi kok ada cowok berbaju resmi memegangi gadis yang
berteriak teriak kesakitan di bak beLakang mobiL yang meLaju cepat.
Sampai di peLataran rumah sakit, karena sudah sangat-sangat
kasihan dengan keadaan korban maka saya kembaLi berteriak supaya orang
tahu, “TOLONG UGD!!! Korban KeceLakaan LaLu-Lintas parah!!!”
Dengan sigap 2 orang perawat keLuar membawa kereta dorong. Dibantu
satpam saya mengangkat korban ke kereta dorong dan Langsung dibawa masuk
ke daLam. Saya Loncat dari mobiL yang Langsung disambut oLeh bapak
empunya kendaraan, “Pak… saya Langsung pergi ya soaLnya harus
segera puLang.” BeLiau sangat ramah dan menyaLami saya, “OK
Pak, terimakasih ya sudah mengantar.” Saya masuk ke rumah sakit mencari
kamar mandi untuk membersihkan darah yang menempeL di tangan, ceLana dan
sepatu. Sungguh tidak pernah terLintas di pikiran saya akan
mengaLami haL yang seperti ini.
Petugas rumah sakit ternyata sudah menunggu saya di Lobby untuk
menanyakan identitas korban. Mereka sempat tidak percaya dan tetap
berusaha mengorek keterangan tentang korban seteLah saya jeLaskan bahwa
saya samasekaLi tidak ada hubungan apa-apa dengan korban dan hanya
tergerak menoLong karena berada di Lokasi keceLakaan. Terdengar suara
erangan keras yang memiLukan hati dari UGD, “Bundaaaa!
Sakiiiiiiit! Aku dimanaaaaaa iniiiii?“ Kami pun masuk ke ruang
UGD dan mengecek korban apakah membawa identitas, yang ternyata
samasekaLi tidak ada. ALhamduLiLlah, tak berapa Lama datang aparat
PoLantas membawa SIM, STNK dan Kartu Mahasiswa korban, dari situ
diketahui bahwa korban adaLah mahasiswa jurusan Akuntansi di Universitas
IsLam Indonesia Yogyakarta.
SeteLah menunggu beberapa saat, dokter yang menangani korban
menyatakan bahwa kondisi korban sangat parah bahkan resiko amputasi
untuk kaki kanannya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan
korban jika mengetahui kondisi yang sebenarnya. Mimpi apa dia semaLam
sampai akhirnya mendapatkan musibah keceLakaan parah. MobiL ambuLan
datang untuk membawa korban ke Rumah Sakit Sardjito supaya segera
mendapat penanganan yang Lebih intensif secepatnya. Saya pun diantar
aparat poLantas kembaLi ke tempat biLyard dengan tidak Lupa berpamitan
kepada para petugas rumah sakit.
Demikian sekeLumit kisah yang dapat saya sampaikan, tanpa tendensi
apa-apa namun hanya sekedar sebagai bahan perenungan bersama bahwasanya
hidup adakaLanya mengaLami musibah yang tak akan pernah terpikirkan oLeh
kita sebeLumnya. OLeh karena itu mariLah kita bersama Lebih
berhati-hati ketika meLangkah, tidak hanya daLam berLaLu-Lintas tetapi
juga daLam apa saja yang kita jaLankan sebagai tindakan preventif
menghindarkan diri dari musibah. JikaLau memang tetap terjadi musibah
keceLakaan berarti memang sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa dan
bukanLah kesaLahan diri kita pribadi.
Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar