Senin, 24 Februari 2014

DAMPAK INFLASI TERHADAP NILAI UANG




http://hellisfun.files.wordpress.com/2012/04/workshop-mantra-uang.jpg?w=314&h=402I. Uang
Uang adalah alat tukar yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara untuk melakukan tukar-menukar barang, jasa, dan atau faktor produksi
a. Syarat-syarat uang:
  • Diterima secara umum
  • Mudah dibawa
  • Tidak mudah rusak (tahan lama)
  • Jumlahnya memenuhi kebutuhan (tidak berlebihan)
  • Nilainya stabil (tidak mengalami perubahan)
b. Jenis-jenis uang:
  • Uang kartal: uang yang dikeluarkan oleh bank sentral dan langsung dapat digunakan sebagai pembayaran. Contoh: uang kertas, dan logam
  • Uang giral: uang yang bentuk simpanan deposito/giro dan dapat digunakan sewaktu-waktu. Contoh: kartu kredit, cek, bilyet giro, dll
c. Permintaan uang:
Permintaan uang adalah keinginan masyarakat untuk memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai. Menurut JM Keynes terdapat 3 motif permintaan uang, yaitu:
  • Motif transaksi (transaction motive)
  • Motif berjaga-jaga (precautionary motive)
  • Motif spekulasi (speculative motive)
d. Penawaran uang:
Penawaran uang sering juga disebut dengan istilah jumlah uang yang beredar. Penawaran uang antara lain:
  • Tingkat harga
  • Tingkat suku bunga
  • Pendapatan masyarakat
  • Selera masyarakat
e. Fungsi atau peranan uang:
  • Untuk melancarkan tukar-menukar (alat tukar)
  • Untuk menjadi satuan hitung (pengukur nilai)
  • Untuk ukuran bayaran yang ditunda
  • Sebagai alat penyimpan  nilai
II. Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinyu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinyu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secar terus-menerus dan saling mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
  •  Inflasi ringan: terjadi bila kenaikan harga berada di bawah angka 10% per tahun
  • Inflasi sedang: terjadi bila kenaikan harga berada di antara angka 10%-30% setahun
  • Inflasi berat: bila kenaikan harga antara 30%-100% setahun
  • Hiperinflasi: inflasi tidak terkendali, bila kenaikan harga di atas 100% pertahun
a. Penyebab inflasi:
Inflasi dapat disebabkan oleh 2 hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi dan atau distribusi (kurangnya produksi/product of service)  termasuk juga kurangnya distribusi. Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh pemerintah (goverment) seperti fisikal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga permitaan yang tinggi  memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor-faktor itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas di pasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di apsar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketida lancaran aliran distribusi atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran atau juga karena terbentuknya posisinilai perekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk meghasilkan produksi tersebut, aksi spekulasi (penimbunan), dll. Sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peran yang sangat penting.
c. Penggolongan inflasi:
Berdasakan asalnya infalsi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
  • Inflasi dari dalam negeri: terjadi akibat defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pemasaran yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal.
  • Inflasi dari luar negeri: akibat adanya kenaikan harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga, yaitu antara lain:
  • Inflasi tertutup (closed inflation): jika kenaikan harga yang terjadi berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu
  • Inflasi terbuka (Open inflation): bila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum
  • Hiperinflasi: apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga trus berubah dan meningkat sehingga rang tidak dapat menahan uang lebih lama karena disebabkan nilai uang yang terus menurun
d. Mengukur inflasi:
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat presentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut diantaranya:
  • Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI): indeks ang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen
  • Indeks biaya hidup atau cost of living index (COLI)
  • Indeks harga produsen (IHP): indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi
  • Indeks harga komoditas: indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu
  • Indeks harga barang-barang modal
  • Deflator PDB : menunjukan besarnya perubahan hargadari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.
III. Dampak Inflasi Terhadap Nilai Uang
Inflasi memiliki dampak posistif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi yang terjadi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang posistif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung, dan melakukan investasi. Sebaliknya alam masa inflasi yang parah yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi) keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung atau melakukan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh, seorang  pensiunan pegawai negri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 atau 13 tahun kebudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunannya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang karena untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi dari pada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi meneybabkan naiknya biaya prodduksi hingga pada akhirnya merugikan produsen maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, tidak sanggup mengikuti laju inflasi usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar