- 1. Pengaruh Tingkat Suku Bunga
Suku bunga
adalah biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang diterima dan
merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya. Suku bunga
mempengaruhi keputusan individu terhadap pilihan membelanjakan uang lebih
banyak atau menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan. Suku bunga dibedakan
menjadi dua, suku bunga nominal dan suku bunga riil. Suku bunga nominal adalah
tingkat bunga (rate) yang dapat diamati di pasar. Sedangkan suku bunga riil
adalah konsep yang mengukur tingkat bunga yang sesungguhnya setelah suku bunga
nominal dikurangi dengan laju inflasi yang diharapkan. Tingkat suku bunga juga
digunakan pemerintah untuk mengendalikan tingkat harga, ketika tingkat harga
tinggi dimana jumlah uang yang beredar di masyarakat banyak sehingga konsumsi
masyarakat tinggi akan diantisipasi oleh pemerintah dengan menetapkan tingkat
suku bunga yang tinggi. Dengan tingkat suku bunga tinggi yang diharapkan
kemudian adalah berkurangnya jumlah uang beredar sehingga permintaan agregat
pun akan berkurang dan kenaikan harga bisa diatasi.
Adapun
fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah:
- Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
- Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sector industry apabila perusahaan-perusahaan dari industry tersebut akan meminjam dana, maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sector lain.
- Pemerintah dapat memamfaatkan suku bunga untuk mengontrol uang yang beredar.
Suku bunga
merupakan tolak ukur dari kegiatan perekonomian suatu negara yang berimbas pada
kegiatan perputaran arus keuangan perbankan, inflasi, investasi dan pergerakan
currency disuatu negara. Perlu diketahui biasanya negara-negara besar seperti
Amerika, Inggris dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa merupakan
negara yang memiliki currency terbesar dalam transaksi di bursa. Aktivitas
ekonomi yang terjadi di negara-negara memiliki pengaruh fundamental terhadap
perekonomian dunia.
Akhir bulan
September ini Central Bank disetiap negara akan mengeluarkan data suku bunga
yang pengaruhnya sangat besar terhadap mata uang negara itu sendiri maupun
berimbas pada currency lainnya. Katakanlah Bank of England (BoE) akan
mengeluarkan statement suku bunga pada pertemuan MPC Meeting Minutes, Rabu 23
Sept 2009, Federal Reserve Districts (FED) oleh Amerika yang akan mengeluarkan
dalam FOMC Statement dan Federal Funds Rate, Kamis 24 Sept 2009 dini hari, Bank
of Japan (BoJ) dan Euro Central Bank (ECB) diperkirakan bulan Oktober baru
update suku bunga. Data yang di keluarkan oleh bank sentral selalu menjadi
tolak ukur dalam menganalisa dan memprediksi harga hingga penutupan perdagangan
di pasar global. Di samping itu, kebijakan moneter yang di ambil oleh pemimpin
negara-negara kapital itu mampu menghempaskan maupun mendongkrak mata uang
negara yang bersangkutan.
Kenaikan
interest rate oleh The Fed akan direspon para pelaku pasar dan para penanam
modal untuk memanfaatkan moment tersebut guna meningkatkan produksinya dan
menanamkan investasinya. Seiring dengan itu, akan berdampak juga pada jumlah
produksi yang bertambah dan tenaga kerja yang juga akan semakin bertambah.
Akibatnya ekspor bertambah dan jumlah pengangguran menurun, sehingga devisa
yang masuk ke negara tersebut semakin menguatkan dollar terhadap mata uang
lain. Demikian pula sebaliknya, bila suku bunga menurun, produksi industri akan
berkurang karena produsen akan membatasi kerugian. Apabila jumlah produksi
berkurang, maka akan melemahkan mata uang tersebut. Demikian pula yang terjadi
di negara lain seperti Uni Eropa, Inggris, Jepang dan lainnya. Disisi lain
kenaikan suku bunga justru sangat dikhawatirkan oleh para kreditur dan tingkat
penjualan perumahan yang semakin menurun karena membuat pajak pinjaman modal
dan kredit perumahan semakin meningkat, tanpa didukung dalam kelancaran
produksi dan bisnis yang menunjang, akan berimbas pada kredit macet seperti
halnya kasus sublime mortgage yang terjadi pada tahun 2007 yang berbuntut pada
krisis di Amerika Serikat. Hal inilah yang harus disikapi dalam pengaturan
kebijakan suku bunga disuatu Negara. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai
dalam menaikkan dan menurunkan suku bunga yang semuanya harus berpihak pada
kesejahteraan rakyat dalam negeri sebagai prioritas utama. Dampak ekonomi yang
harus diwaspadai dalam perubahan suku bunganya diantaranya adalah :
• GDP (Gross
Domestik Product) sebagai indikator tingkat kesehatan pertumbuhan ekonomi Negara,
meliputi Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Ekspor-Impor) apabila
peningkatan suku bunga mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi maka interest rate
(IR) perlu dinaikkan demikian juga sebaliknya.
• Kredit
Perumahan Rakyat
Pengadaan
perumahan merupakan bagian terpenting dalam menunjang kesejahteraan hidup
manusia, pentingnya data ini terletak pada kemampuannya untuk memicu perubahan
kondisi perekonomian, memprediksi perubahan tingkat pertumbuhan. Turunnya
jumlah unit perumahan baru dapat memperlambat perekonomian dan mendorong ke
arah resesi. Sebaliknya, peningkatan pada jumlah unit perumahan baru
mengindikasikan tumbuhnya perekonomian. Peningkatan bulanan yang melebihi
perkiraan diartikan sebagai indikasi naiknya tekanan inflasi. Masalahnya kenaikan
interest rate kadang menghambat daya beli masyarakat terhadap perumahan baru
dan suku bunga pinjaman (KPR) yang masih dalam masa pembayaran jangka panjang.
Problem inilah yang kadang kebijakan kenaikan interest rate sangat tidak
disukai oleh rakyat kecil. Contohnya belakangan The Fed selama hampir setahun
ini tetap mempertahankan suku bunga rendah < 0.25 % dalam rangka menguatkan
ekonomi kerakyatan.
• Tingkat
Pengangguran (Unemployment Rate)
Dampak yang
harus diperhatikan dalam kebijakan naik-turunnya suku bunga apakah semakin
meningkatkan peluang usaha dan peluang kerja atau malah justru meningkatkan
pengangguran dan PHK. Meski merupakan data yang sangat umum dikenal (karena
simple dan ada implikasinya dengan politik), Unemployment/Jobless Rate adalah
indeks tingkat pengangguran atau yang aktif mencari lowongan pekerjaan namun
belum mendapatkan pekerjaan. Unemployment Rate berpengaruh terhadap sinyal
perubahan tren perekonomian Negara.
Hal-hal
inilah yang menjadi dampak utama atas kebijakan kenaikan atau turunnya suku
bunga yang bisa sangat mempengaruhi makro ekonomi suatu Negara. Sekarang untuk
prediksi kedepan apakah Amerika masih akan mempertahankan suku bunga rendahnya?
Untuk situasi saat ini kebijakan ini amat tepat dan masih relevan untuk dipertahankan.
Tapi bagaimana jika ternyata kebijakan The Fed berubah dengan menaikkan suku
bunganya, apa yang harus dilakukan oleh para pelaku pasar, bagaimana dampaknya
dengan rakyat kecil, apakah semakin sejahtera, terus bagaimana dampaknya dengan
pergerakan currency USD dan mata uang lainnya. Semuanya bisa kita amati
nantinya setelah adanya keputusan resmi dari FOMC minute dan testimony dari
Bernanke selaku gubenur Fed.
- 2. Pengaruh Jumlah Uang Beredar
Pengertian
Jumlah Uang Beredar (JUB)
- Uang Beredar Dalam Arti Sempit (Narrow Money = M1)
Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa uang beredar dalam arti sempit adalah seluruh
uang kartal dan uang giral yang ada di tangan masyarakat. Sedangkan uang kartal
milik pemerintah (Bank Indonesia) yang disimpan di bank-bank umum atau bank
sentral itu sendiri, tidak dikelompokkan sebagai uang kartal.
Sedangkan
uang giral merupakan simpanan rekening koran (giro) masyarakat pada bank-bank
umum. Simpanan ini merupakan bagian dari uang beredar, karena sewaktu-waktu
dapat digunakan oleh pemiliknya untuk melakukan berbagai transaksi. Namun saldo
rekening giro milik suatu bank yang terdapat pada bank lain, tidak
dikategorikan sebagai uang giral.
- Uang Beredar Dalam Arti Luas (Broad money = M2)
Dalam arti
luas, uang beredar merupakan penjumlahan dari uang beredar dalam arti sempit
dengan uang kuasi. Uang kuasi atau near money adalah simpanan masyarakat pada
bank umum dalam bentuk deposito berjangka (time deposits) dan tabungan. Uang
kuasi diklasifikasikan sebagai uang beredar, dengan alasan bahwa kedua bentuk
simpanan masyarakat ini dapat dicairkan menjadi uang tunai oleh pemiliknya,
untuk berbagai keperluan transaksi yang dilakukan.
Jumlah uang
beredar berhubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal
ini berarti bahwa semakin meningkat jumlah uang beredar, maka pertumbuhan
ekonomi Indonesia akan semakin meningkat. jumlah uang beradar berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan dengan
hipotesa Keynes, yakni, penawaran uang (Money Supply) memiliki pengaruh
positif terhadap output dan pertumbuhan ekonomi. Apabila terjadi kelebihan
jumlah uang beredar, Bank Indonesia akan mengambil kebijakan (menurunkan)
tingkat suku bunga. Kondisi ini mendorong para investor untuk melakukan
investasi, yang pada akhirnya akan menciptakan kenaikan output dan
memicu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, permintaan uang akan memiliki hubungan
negatif terhadap output, meningkatnya permintaan uang akan berdampak
pada peningkatan tingkat suku bunga dan pada akhirnya berakibat pada penurunan output.
Untuk
menjaga kestabilan nilai mata uang, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter
diberikan beberapa wewenang dalam melakukan tugasnya. Dengan merumuskan dan
melaksanakan kebijakan moneter untuk mengendalikan uang beredar dan suku bunga
dalam perekonomian agar dapat mendukung pencapaian tujuan kestabilan nilai uang
tidak boleh dilakukan secara fleksibel. Hal ini akan mempersulit dan
menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi terkendala dan lesu jika Bank Indonesia
terlalu intervensi dalam hal pengendalian jumlah uang beredar. Sebaliknya,
pengendalian uang beredar dan suku bunga tidak boleh terlalu longgar karena
akan menyebabkan tidak terpeliharanya kestabilan nilai uang, yang akan
mendorong merosotnya kepercayaan masyarakat dan mempersulit perencanaan bisnis
para pengusaha. Hasil analisa dan pemantauan yang dilakukan oleh bank sentral
kemudian akan digunakan dalam melaksanakan kebijakan moneternya baik melalui
pengendalian jumlah uang beredar dan suku bunga.
Jumlah uang
beredar, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1970 – 2002,
menemukan bahwa jumlah uang beredar (M2) memiliki hubungan dengan tingkat bunga
(i) dan pertumbuhan ekonomi (PDB) memiliki hubungan dengan jumlah uang beredar
(M2) secara signifikan.
Terdapat
hubungan jangka panjang yang stabil antara kebijakan pemerintah dan pertumbuhan
ekonomi. Dalam jangka pendek, jumlah uang beredar dan kredit sebagai variabel
moneter memiliki hubungan jangka pendek dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini
berarti dalam periode yang sama, jumlah uang beredar akan berpengaruh positif
terhadap pertumbuhan ekonomi.
- 3. Pengaruh Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu
proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu)
berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di
pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat
adanya ketidaklancaran distribusi barang.
- Penggolongan Tingkat Inflasi
Tingkat
inflasi merupakan variabel ekonomi makro paling penting dan paling ditakuti oleh
para pelaku ekonomi termasuk Pemerintah, karena dapat membawa pengaruh buruk
pada struktur biaya produksi dan tingkat kesejahteraan. Bahkan satu rezim
kabinet pemerintahan dapat jatuh hanya karena tidak dapat menekan dan
mengendalikan lonjakan tingkat inflasi. Tingkat inflasi yang naik berpuluh kali
lipat, seperti yang dialami oleh pemerintahan rezim Soekarno dan rezim Marcos,
menjadi bukti nyata dari rawannya dampak negatif yang harus ditanggung para
pengusaha dan masyarakat.
Faktor-Faktor
Pemicu Tingkat Inflasi Laju kenaikan tingkat inflasi dipengaruhi oleh berbagai
faktor, sebagian ditentukan dari sudut pandang teori inflasi yang dianut. Pada
kasus perekonomian di Indonesia paling tidak terdapat beberapa faktor yang baik
secara langsung maupun secara psikologis dapat mendorong trend kenaikan tingkat
inflasi. Faktor ekonomi dan non-ekonomi yang diperkirakan mempengaruhi tingkat
inflasi di negara kita antara lain dapat diidentifikasi berikut ini:
(1) Adanya
peningkatan jumlah uang beredar. Peningkatan jumlah uang beredar ini di
Indonesia disebabkan antara lain oleh peristiwa:
- Kenaikan harga migas di luar negeri
- Meningkatnya bantuan luar negeri
- Masuknya modal asing, khususnya investasi portfolio di pasar uang
- Meningkatnya anggaran Pemerintah secara mencolok
- Depresiasi nilai Rupiah dan gejolak mata uang konvertibel
(2) Adanya
tekanan pada tingkat harga umum, yang dapat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian
berikut ini :
- Penurunan produksi pangan akibat musim kering yang berkepanjangan
- Peningkatan harga komoditi umum secara mendadak
- Pencabutan program subsidi BBM
- Kenaikan harga BBM yang mencolok
- Kenaikan tarif listrik
(3)
Kebijakan Pemerintah dalam mendorong kegiatan ekspor non-migas; maupun
kebijakan lainnya yang bersifat distortif seperti antara lain:
- Lonjakan inflasi setelah dikeluarkannya kebijakan devaluasi
- Kebijakan tata niaga yang menciptakan pasar yang oligopolistis dan monopolistis
- Pungutan-pungutan yang dikenakan dalam perjalanan lalu lintas barang dan mobilitas tenaga kerja
- Kebijakan peningkatan tingkat upah minimum regional
(4)
Peningkatan pertumbuhan agregat demand yang dipicu oleh perubahan selera
masyarakat, atau kebijakan pemberian bonus perusahaan dan faktor spekulatif
lainnya:
- Pemberian bonus THR mendekati jatuhnya Hari Raya.
- Pemberian bonus prestasi perusahaan
- Perkembangan pusat belanja yang ekspansif dengan mematikan fungsi keberadaan pasar tradisional di lokalitas tertentu.
Pada masa
lalu pencetus inflasi di Indonesia lebih dipengaruhi oleh inflasi yang berasal
dari impor bahan baku dan penolong. Hal ini beralasan karena sebagian besar
dari bahan baku tersebut masih diimpor dari luar negeri, akibat struktur
industri yang sedikit mengandung local content.
Berdasarkan
asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari
dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari
dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang
dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi
mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi
sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di
luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Inflasi juga
dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika
kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang
tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation).
Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka
inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation).
Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat
harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang
lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak
terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan
keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
1.
Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
2.
Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
3.
Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
- Pengaruh Inflasi
Inflasi
memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya
inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif
dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan
pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan
mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada
saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi
kacau dan perekonomian dirasakan lesu.
Orang
menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para
penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi
harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke
waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan
tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai
negeri tahun 1990. Pada tahun 1990,uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli
uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan
keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga
halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan
dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga
menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan
menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas
bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha
dan investasi akan sulit berkembang. Karena,
untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang
yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat
pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat
meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang
pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang
diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi,
produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi
pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi
hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan
produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu.
Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut
mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum,
inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong
kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif,
kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca
pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
- Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting
dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha
mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral
bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya
tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah.
Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang
kurang independen — salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang
bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian — akan
mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral
umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam
mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan
tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah
mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun
eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank
sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar